Sejenak Mengkaji Ideologi Partai Politik
Dalam menyongsong pesta demokrasi (2009-2010) seluruh komponen struktur politik sudah mulai unjuk gigi, yang paling menonjol saat ini adalah partai politik. Di sepanjang jalan bahkan tempat pemasangan reklame terpampang begitu banyak atribut partai (mulai dari bendera, pamphlet, gambar tokoh, slogan dan segala bentuk propaganda yang lain) yang sengaja dipasang dengan tujuan sosialisasi agar dikenal oleh masyarakat. Setrategi semacam ini memang efektif untuk tujuan mengenalkan kepada masyarakat bahwa (partai A, B, C dan sebagainya..) dalam pesta demokrasi mendatang telah lolos ferivikasi.
Namun disisi lain sosialisasi semacam itu tidak bisa maksimal, karena terlalu banyak partai yang muncul dan masih asing bagi masyarakat. Dan dalam realitanya sulit kita temui partai yang mensosialisasikan dengan cara terjun langsung kepada masyarakat dan benar-benar berdiskusi tentang kondisi dan harapan (aspirasi) masyarakat.
Sebagai generasi bangsa Indonesia mari sejenak berpikir dan berkenalan (mengkaji) ideology partai politik. Karena mendekat atau lari kereta tetap lewat, dalam artian mau tidak mau kita berkewajiban dalam partisipasi politik.
Partai Politik
Secara umum Partai Politik adalah Organisasi dimana di dalamnya terdapat pembagian tugas dan petugas untuk mencapai suatu tujuan, mempunyai ideologi, mempunyai program politik (political platform) sebagai rencana pelaksanaan atau cara pencapaian tujuan secara lebih pragmatis menurut penahapan jangka pendek sampai jangka panjang serta mempunyai ciri berupa keinginan untuk berkuasa. Tujuan partai politik adalah berpartisipasi dalam sektor pemerintahan, berusaha melakukan pengawasan (bahkan oposisi) dan memadukan tuntutan yang masih mentah (termasuk mencanangkan isyu politik).
Dalam UU No. 2-2008 (Pasal 1 ayat 1) tentang Partai Politik. Yang dimaksud Partai Politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Dari definisi tersebut sudah jelas sangat mulia apa yang menjadi tujuan dan fungsi partai politik, namun tidah salah jika kita juga mengkaji dan mengerti apa sebenarnya yang menjadi landasan dan ideology politik partai politik yang selama ini menjadi pilar demokrasi yang paling urgent.
Ideology Politik
Cakupan ideologi menurut de Tracy adalah nilai, norma, falsafah, dan kepercayaan religius, sentimen, kaidah etis, pengetahuan, atau wawasan tentang dunia, etos dan semacamnya. Pengertian ini sering di sebut sebagai pendekatan yang ‘netral’ tentang ideologi. Istilah ideologi di‘sempitkan’ maknanya oleh Marx. Ideologi lebih dipahami sebagai, sistem gagasan yang dapat digunakan untuk me-rasionalisasi-kan, mem-beri-kan teguran, memaafkan, menyerang atau menjelaskan keyakinan, kepercayaan, tindak dan pengaturan kultural tertentu. Pengertian dalam World Book Encyclopedia, yang mendefiniskan: “Ideologi tidak didasarkan pada informasi faktual dalam memperkuat kepercayaannya. Orang cenderung menerima sebuah sistem pikiran (atau gagasan) tertentu ini tentu menolak sistem pikiran lain yang tidak sama dalam menjelaskan kenyataan yang ada. …”
Ideologi Politik Dunia:
1. Anarkhisme
Suatu paham yang menolak pemerintahan, Fungsi-fungsi negara dapat digantikan oleh perhimpunan yang dibentuk secara sukarela, tanpa alat-alat paksaan, tanpa polisi, hukum dan pengadilan. Anarkhi tidak menginginkan masyarakat kacau balau namun justru masyarakat yang tertib, namun ketertiban yang diselenggarakan sendiri oleh individu-individu didalamnya. Beberapa tokohnya: William Goodwin, Max Stirner, Pierre J Proudhoun, Leo Tolstoy.
2. Liberalisme/Individualisme
Negara tidak lain adalah keburukan yang terpaksa diterima, negara masih diperlukan untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Negara hanya boleh memasuki ruang menjaga hak-hak individu, dan tidak boleh memasuki ruang individu seseorang. Negara harus ditujukan untuk menciptakan suasana persaingan bebas yang memungkinkan beberapa pihak bersaing secara bebas untuk mencapai kehidupan yang lebih makmur secara ekonomi. Dalam konteks ini negara yang baik (good governance) adalah negara yang ramah (friendly) terhadap mekanisme pasar (hukum laizess faire). Pada prinsipnya hukum survival of the fittest berlaku dalam kehidupan bersama.
3. Sosialisme-Komunisme
Komunisme dan sosialisme, dua ideologi ini tidak dapat dilepaskan dari nama Karl Marx. Atas inspirasi Marx jugalah lahir banyak peristiwa besar seperti Revolusi Bolsevik di Rusia (1917), Revolusi di Cina dan sebagainya yang kemudian melahirkan negara-negara besar seperti Uni Soviet dan RRC. Dan ideology ini memang, menjadi anak sekaligus musuh besar liberalisme. Kapitalisme liberal, menurut paham ini merupakan corak produksi yang menindas. Akibat dari logika kapitalisme yang mengejar akumulasi modal, seorang pemodal harus melakukan pengaturan terhadap proses produksi. Dalam corak produksi yang kapitalistik, laba dan akumulasi modal di dapatkan dari konsep nilai lebih (surplus value). Negara hanyalah alat penindasan kaum berkuasa. Sosialisme-Komunisme menghendaki campurtangan negara dalam menguasai alat-alat produksi untuk mewujudkan keadilan sosial untuk seluruh manusia tanpa ada suatu kepemilikan pribadi (kecuali sosialisme yang masih membolehkan kepemilikan partikelir/minimum). Diperlukan partai pelopor dan tunggal dalam melaksanakan tugas-tugas tersebut yakni partai Komunis.
4. Sindikalisme, quild socialism
Sindikalisme memiliki tujuan yang sosialistik, tapi bukanlah sosialisme kenegaraan melainkan sosialisme serikat pekerja (trade union socialism). Serikat pekerja harus merebut alat-alat produksi dari tangan pemilik modal, dan bukan negara yang akan menguasainya tetapi serikat-serikat pekerja. Negara tidak diperlukan dalam mewujudkan cita-cita sosialisme, serikat kerja harus menggantikan peran negara sebagai pemberi rasa aman dan kesejahteraan bagi seluruh anggotanya.
5. Fascisme
Ideologi fasis ini pernah berjaya di awal abad XX, akibat perang dunia I yang memporak porandakan dunia. Masyarakat rindu pada munculnya kedamaian, pada masa itulah lahir fasisme seperti di Italia dan Jerman yang di pelopori oleh Benito Musolini dan Adolf Hitler. Ide-ide fasis ini memang sangat menggiurkan terutama kelompok-kelompok militer, karena sangat menguntungkan agenda dan kepentingannya. Ide-ide fasis ini digawangi oleh para intelektual seperti Claudio Sorel, Vilferdo Pareto, dan Henry Bergson. Ideologi ini merupakan artikulasi kepentingan kelas aristrokrat (bangsawan menengah), juga para intelektual di luar kelompok sosialis dan kapitalis.
Ide dasar dari fascisme yang pertama adalah Totaliter: Negara harus menjadi pelopor dan mengatur segala hal, apapun keinginan negara (penguasa/pemimpin) harus mengalahkan keinginan kelompok maupun individual. Hak-hak individual bisa di nafikkan oleh penguasa. Kedua adalah Nasionalis - Rasialis: Loyalitas warga bangsa untuk taat pada pemimpinnya menjadi tuntutan yang tidak tertolak dari konsep negara totaliter. Untuk itu elite kekuasaan selalu mempropagandakan gagasan-gagasan nasionalisme ekstrem (chauvinistik), yang bahkan merendahkan kelompok ras dan bangsa yang lain. Hitler misalnya mempropaganda keunggulan ras Ariya Jerman. Jepang pun berbuat demikian. Pola-pola fasis sangat nampak pada kepemimpinan Soeharto dalam sejarah Orde Baru. Ketiga adalah Idolasi Pemimpin: Elite atau sekelompok kecil penguasa adalah pelopor perubahan. Mereka menyatakan : bukan gagasan, atau kekuatan-kekuatan tersembunyi yang dapat merubah dunia, tapi adalah semangat dan tindakan seorang pemimpin. Sifatnya sangat messianic, seperti istilah-istilah Ratu Adil, Satrio piningit.
6. Nasionalisme
Perasaan kesukaran dan kesamaan nasib suatu komunitas manusia (imagined community) adalah cikal bakal lahirnya sebuah nation state (negara nasional), selain karena faktor ras, suku, keturunan dan bahasa. Perjuangan untuk persatuan nasional, kebebasan nasional dari campur tangan dunia luar, mewujudkan kemandirian, keaslian/keistimewaan, dan identitas nasional harus dilakukan demi martabat suatu bangsa.
7. Fundamentalisme agama
Seperti sosialisme-komunisme ideologi ini melintas batas negara. Prinsip dasarnya: bahwa teks-teks agama secara lateral, harus menjadi rujukan dalam mengkonstruksi kehidupan bernegara dan mengaktualisasi Ide-ide syariah dalam kehidupan bernegara, bentuk negara yang diinginkan adalah khilafah dan adanya dewan syariah.
Dari beberapa ideology politik dunia tersebut kita bisa menilai dan mengkaji lebih dalam apa sebenarnya yang menjadi ideology partai politik yang sekarang tumbuh subur di tanah air.
[*] Bahan kajian dalam diskusi el-SAS (Lembaga Studi Agama dan Sosial) STAIN Ponorogo











10-Oct-2008 at 11:12 am
politik? polisi itik?
cape dech.. kalo ada calon presiden brani bayar aku 5 juta per bulan, setiap tahun pasti aku pilih dia…
10-Oct-2008 at 11:19 am
ngono kang….
ngono yo oleh….
piye…? profilku dah lengkap lom…?
10-Oct-2008 at 12:30 pm
Pak gajah mencalonkan aja
Arifudin postingan terakhir..Anugrah terindah
10-Oct-2008 at 4:42 pm
partai politik itu ideologinya hanya satu: untung besar dengan modal kecil!
10-Oct-2008 at 5:07 pm
Setubuh ma om Gajah…
ardhietechno postingan terakhir..Ngabuburit Warga RY (KasKus)
10-Oct-2008 at 6:35 pm
Haiyah…
Politik itu kotor…
menghalalkan segala cara…
11-Oct-2008 at 10:22 am
buat partai kotareyog.com
naimul postingan terakhir..Malam Pertama
11-Oct-2008 at 6:13 pm
Setuju maz naim, saya pasti magang caleg
arifudin postingan terakhir..Anugrah terindah
12-Oct-2008 at 7:18 am
saya juga mau nyaleg ah. konstituen saya juga sudah siap kok.
denologis postingan terakhir..efek rumah kaca - di udara
12-Oct-2008 at 6:36 pm
Artikel yang lengkap dan bermanfaat mas.. Terima kasih
Anton Sulistiyono postingan terakhir..100 Dollar dari Google Adsense
13-Oct-2008 at 7:45 pm
mk nya jgn pd mau dipolitiki pemerintah
suarakan hak mu… 
13-Oct-2008 at 8:11 pm
15-Oct-2008 at 2:03 am
politik = mengatur urusan rakyat/ umat, baik dalam atau luar negeri. politik dilaksanakan oleh negara maupun rakyat. Negara mengurus kepentingan rakyat, sementara rakyat melakukan koreksi terhadap pemerintah. tingkat tertinggi dari pemikiran politik sebenarnya adalah pemikiran yang berhubungan dengan urusan umat manusia dari sudut pandang tertentu.
andai politik diatur tidak dengan cara sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) tentu akan membawa pada kebaikan, keberkahan dan kemakmuran.
namun kebanyakan dari kita, justru alergi dgn yang namanya politik dan turunannya, baru dengar saja sudah jijik dan anti, gambaran/opini bahwa politik tidak sejalan dengan agama yang suci, bahwa politik berarti pragmatis dan menerima realita apa adanya serta mustahil untuk mengubahnya dimaksudkan untuk semakin menenggelamkan kita kdalam penindasan negara lain (lewat tangan komparador2 lokal, penguasa2 boneka)serta menutup rapat pintu kebangkitan.
politisi yang baik sebenarnya banyak dinegeri kita ini,namun apalah arti setitik susu di dalam nila sebelanga.
perjuangan mahasiswa banyak yang finish ketika telah memperoleh gelar sarjana. padahal otak mereka seharusnya dapat bermanfaat bagi rakyat dalam mengatasi berbagai kesewenangan penguasa terutama untuk mengganti nila sebelanga itu. apa daya semua lapisan rakyat termasuk para intelektualnya (mahasiswa) telah putus asa, sehingga yang gak bener sudah dianggap biasa dan wajar, ikut kritis dianggap gak dapet bagian/jatah. nah, semoga dengan komunitas blogger warok ini dapat menjadi sarana pemicu kbangkitan meskipun dalam skup kecil masyarakat ponorogo pengguna internyet.
15-Oct-2008 at 2:33 am
partisipasi politik warga negara tidak melulu diwujudkan dengan dukungan kepada partai politik atau ikut hajatan pemilu. namun, ikut memberikan pendidikan politik kepada masyarakat lewat berbagai kegiatan serta ikut mengingatkan penguasa juga merupakan wujud dari partisipasi juga.
tugas tersebut sebenarnya beban partai politik, namun saat ini partai politik tak lebih sebagai mobil carteran bagi para politisi abisius untuk naik kuasa. secara umum ada 4 sebab utama kegagalan parpol, gerakan politik dan organisasi masyarakat yg dapat kita rasakan.
1. Gerakan-gerakan tersebut berdiri di atas dasar konsep yang umum tanpa batasan yang jelas, sehingga menjadi suatu pemikiran yang samar atau kabur. Lebih-lebih lagi, pemikiran-pemikiran tersebut tidak jelas dan tidak jernih.
2. Gerakan-gerakan tersebut tidak mengetahui metode penerapan pemikirannya, bahkan pemikirannya diterapkan dengan cara-cara yang menunjukkan ketidaksiapan gerakan tersebut dan penuh dengan bias. Lebih dari itu, metode gerakan mereka diliputi oleh kekaburan dan ketidakjelasan.
3. Gerakan-gerakan tersebut bertumpu pada orang-orang yang belum sepenuhnya mempunyai kesadaran yang benar. Niat merekapun belum lurus. Bahkan mereka hanyalah orang-orang yang bermodalkan keinginan dan semangat saja.
4. Orang-orang yang memikul beban tanggung jawab gerakan-gerakan tersebut tidak mempunyai ikatan yang benar. Ikatan di antara mereka hanya sekedar organisasi itu sendiri, yang sekedar memiliki deskripsi tata kerja dari aktivitas yang dilakukan, dan sejumlah istilah yang digunakan sebagai simbol-simbol dan slogan-slogan organisasi.
nah, kita lihat saja, diantara atau bahkan semua partai yg mau ikut “pesta demokrasi” memiliki salah satu atau kesemua unsur tesebut? klw jawabnya “ya” maka parpol-parpol tersebut bukannya membawa perbaikan tetapi justru akan membawa bencana baru pada rakyat kelak kemudian hari. lihat saja disekiling kita,semakin lama semakin banyak rakyat yg golput alias tidak lagi percaya dengan sistem politik penguasa.
15-Oct-2008 at 1:40 pm
wes gak usah kokean omong hehehhe.
aku setuju banget karo dawetjabung
@dawetjabung :pemikiran anda hebat
salam
mantune warok ngebel
warok_suromenggolo postingan terakhir..telaga ngebel
15-Oct-2008 at 5:45 pm
@# warok_suromenggolo
salam kenal juga
best rgrds
putune mbah djanun
16-Oct-2008 at 5:29 pm
sepakat…ma DJ
ning elementanah mathuke putune sopo yo…???
16-Oct-2008 at 10:35 pm
setubuh
18-Oct-2008 at 1:41 am
politik bukan tujuan,tp cuma salah satu cara untuk menjaga supaya hidup tetap pada fitrahnya…kembali ke sang Khaliq
28-Dec-2008 at 8:01 pm
assalamu’alaikum…… sakderengipun salam kenal geeh..niki tiyang engkang nembe sinau,nyuwun pitedahipun….
bicara soal politik, soal pesta demokrasi 2009 pasti dah tidak jauh dari pemilihan pemimpin baru.tapi menurut saya pengertian partai politik sekarang itu ya hanya sebuah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota.tapi ya gak taulah.mungkin itu hanya dilakukan oleh oknum2 yang tidak bertanggung jawab, yang tidak lagi mau mengerti atau memahami esensi yang tekandung dalam UU No. 2-2008 (Pasal 1 ayat 1) tentang Partai Politik.
tapi jarene sekretarise bapk sby yang paling penting dalam politik adalah akhlak.politik yang berakhlak berarti melakukan segala sesuatu dengan tujuan baik,i’tikad baik dan dengan hati yang bersih.karena pemimpin yg sudah keilangan akhlak maka ia akan buta dalam membuat kputusan. seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan tidak berarti harus kehilangan kesan humanisnya, tenggang rasa, menghormati orang lain dan menahan ucapan yang tidak baik.
ada pepatah yang mengatakan;kalau ingin melihat watak seorang pemimpin maa simaklah perilakunya, bukan sewaktu ia menang namun sewaktu ia kalah. dalam ajaran agama keimanan seseorang juga terlihat manakala ia mendapat cobaan dan ujian, buka hanya sewaktu ia mendapat kesenangan. nah situasi seperti ini dalam kompetisi politik yang kita kenal dalam pemilu, termasuk pilpres, pilkada ataupun pilkades, setelah menjalani kampanye panjang yang menguras tenaga, dana dan emosi. semua calon pemimpin pasti akan merasa terpukul menerima kekalahan. tapi bagi seorang politisi menang dan kalah merupakan bagian dari pendidikan dan pendewasaan politik. selamat memilih pemimpin di pesta demokrasi mendatang…….