MARI MENGOREK KARYA FENOMENAL
lir-ilir tandure wis sumilir
tak ijo royo-royo
tak sanggup temanten anyar
bocah angon penekno blimbing kuwi
lunyu-lunyu penekna
kanggo mbasuh dodotiro
dodotiro kumitir bedhaning pinggir
domdomono jlumatana
kanggo sebo mengko sore
mumpung jembar kalangane
mumpung padhang rembulane
ya suraka surak iyo
Mungkin sair diatas sudah tidak asing lagi telinga kita,yaitu tembang ilir-ilir,ILIR berarti dalam bahasa jawa bsa diartikan kipas,
Menurut cerita tembang tersebut karya Sunan Bonang tapi tdak sedikit yang percaya bahwa tembang tersebut ciptaan Sunan Kali Jogo.
Terlepas dari siapa yang menciptakan,coba saya akan menuliskan hasil bebarapa buku yang saya baca..tentang filsofi tembang tersebut.ini sekedar merefresh tentang pengetahuan kita tentang khasanah budaya di pulau jawa ini,khususnya budaya islam…
ilir-ilir tandure wus sumilir/ tak ijo royo-royo /tak sangguh temanten anyar
untain syair tersebut secara harfiah menggambarkan bahwa ajakan agar selalu terjaga dengan keberkahan atas kesuburan yang sudah tergelar nyata,lalu memperhatikan dengan sedemikian rupa layaknya kita melihat pengantin baru,
inipun berarti menyeru untuk brsyukur atas apa anugrah yang sudah di berikan oleh ALLAH SWT
bocah angon penekno blimbing kuwi
mereka yang pduli terhadap kemajuan agama islam dan perkembangannya.diharapkan kita memanjat blimbing..
blimbing disini kenapa jadi ikon karena blimbing tersebut bergigir lima,yang berfilosofi 5 rukun islam.
so disini jika kita pedulidengan kemajuan agama islam dan perkembangannya disuruh berpegang dan melaksanakan rukun islam yang ada 5 itu.
lunyu-lunyu penekno,kanggo mbasuh dodotiro
meskipun dalam keadan licin harus tetep dipanjatn karena untuk membasuh dodotiro (semacam kain panjang)
ini menandakan agar supaya kita mensucikan hati yang terkoyak,yang dimaksud adalah membersihkan dari hal2 yang merusak aqidah.
dodotiro kumitr bedhahing pinggir,dondomono jlumathana.
kenapa hati yang terkoyak,ini karena keyakinan agama islam kita telah terkoyak,atau sobek dibagian pinggirnya sehingga perlu di jahit kembali.
ini juga berarti bahwa kieyakinan agama kita telah dirasuki oleh ajaran yang tidak sesuia dengan AL-QUR AN dan AS SUNAH,makanya dari itu kita wajib untuk memperbaikinya.
Setelah kita membersihkan hati,pakaian dan tentunya tempat,barulah kita bsa beribadah khusyuk kepada allah swt,
ini yang tersirat dalam ungkapan kanggo sebo mengko sore.
mumpung jembar kalangane,mumphung padhang rembulane
ini menyiratkan bahwa masih banyak kesempatan dan waktu ,marilah kitra cepat2 mengerjakan perintah2 ALLAH SWT,
yang tercantum dalam rukun iman dan rukun islam.
Nah kalo sudah demikian maka kita akan mendapatkan sesuatu kegembiraan yang tiada taranya,,,rasanya pokoke mak nyoos.
Ini menandakan kepuasan bathiniyah dan badaniyah kita setelah kita menjalankan apa yang diperintah oleh ALLAH dan apa yang dilarangnya.dengan cara bersuci dari segala yang merusak aqidah kita
ini tersirat dari syair ya suraka surak iyo…
Demikianlah uarain filosofi tembang ILIR-ILIR yang dipercaya ciptaan Sunan Kali Jaga,yang sangat kental dengan suasana religiousnya,suatu karya besar yang tak akan hilang ditelan jaman.Semoga ini menjadi penyemangat kita dalm melaksanakan IBADAH kita sehari-hari,khususnya di bulan RAMADHAN yang tercinta ini.Apalagi bulan Ramadhan kurang beberapa hari lagi,mungkin penjelasan ini bisa jadi sesuatu wacana buat kita apakah bulan Ramadhan ini kita sudah bsa mengikis atau bahkan menghilagkan sifat2 buruk ataupun setan yang ada dalm iri kita,,,,,ini.
Semoga kita mendapatkan kemenangan yang di ridhoi oleh ALLAH SWT,dan kita di jadikan manusia yang fitrah…amien
Sumber penulisan :
Buku Cerita SUNAN KALI JOGO
Buku BABAD TANAH JAWI
Buku BABAD CIREBON
Majalah LIBERTY
Ya ALLAH kembalikan
RAMADHAN kami dalam hari-hari yang banyak,,,
dalam tahun -tahun yang panjang….
agar kami selalu bsa menata hati kami,,
dan memperbaharui taubah kami….
“TAKOBALLALAHU MINNA WA MINKUM TAQOBAL YA KARIEM”
MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN
“MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN”

Recent Comments